Makanan yang tersaji di piring kita ternyata bukan cuma soal selera. Ada sejarah, kebijakan, bahkan nasib hutan yang diam-diam ikut menentukan apa yang kita makan setiap hari.
Kedengarannya berlebihan? Aku juga tidak langsung memikirkannya sejauh itu. Selama ini, urusan makan ya sesederhana memilih lauk, mencari sayur, lalu memastikan ada nasi hangat di atas meja. Kalau belum makan nasi, rasanya seperti ada yang kurang. Perut mungkin sudah kenyang, tetapi kepala telanjur punya definisi sendiri tentang apa itu makan.
Sampai pada 16 Oktober 2026 lalu, ketika aku mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad bertema “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan”.
Aku bergabung dari balik layar, menyimak percakapan tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla), keragaman hayati, serta pangan lokal. Awalnya, tiga hal itu terasa seperti topik yang berbeda. Namun, semakin jauh mengikuti diskusi, aku justru menemukan satu benang merah yang dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari: makanan yang kita pilih hari ini punya hubungan dengan lingkungan tempat kita tinggal.
Dan, mungkin tanpa sadar, kita ikut menentukan pangan seperti apa yang akan tersedia untuk generasi berikutnya.
Kita Terbiasa Makan Nasi, Lalu Lupa Pernah Punya Banyak Pilihan
Aku masih ingat rumah kakek dan nenek sekitar 19 tahun lalu. Ada uwi, suweg, dan tiwul kukus yang bisa menjadi teman sore. Makanan yang sederhana, tetapi punya tempat tersendiri dalam ingatan masa kecilku. Tidak perlu kemasan menarik, tidak perlu nama yang terdengar asing, apalagi embel-embel superfood untuk membuatnya terasa istimewa.
Sekarang, ketika mengingat makanan-makanan itu, aku justru bertanya-tanya: kapan kita mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang kurang modern?
Di acara Eco Blogger Squad, pembahasan tentang dominasi beras membuatku kembali memikirkan kebiasaan makan kita. Pada masa Orde Baru, kebijakan perberasan dan program swasembada beras ikut memperkuat posisi nasi sebagai makanan pokok utama. Dalam prosesnya, pangan lokal di berbagai daerah semakin tersisih dari gambaran tentang makanan sehari-hari yang dianggap ideal.
Padahal, Indonesia bukan negeri dengan satu jenis tanah, satu kebudayaan, dan satu sumber pangan.
Ada wilayah yang akrab dengan sagu, ada yang mengandalkan singkong, jagung, ubi, atau talas. Di Maluku dan Papua, misalnya, sagu hadir dalam beragam olahan, termasuk papeda yang disantap bersama ikan dan kuah kuning. Sementara di daerah lain, tiwul dan olahan singkong punya sejarah panjang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Aku jadi berpikir, jangan-jangan yang selama ini kita anggap sebagai selera pribadi juga dibentuk oleh kebiasaan sosial dan kebijakan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Bukan berarti nasi harus ditinggalkan. Aku juga tidak sedang mengajak siapa pun berhenti makan nasi besok pagi. Namun, menarik untuk menyadari bahwa kita sebenarnya punya lebih banyak pilihan daripada yang selama ini kita bayangkan.
Ketika satu jenis pangan ditempatkan sebagai standar, pangan lainnya berisiko dianggap sebagai pilihan kedua. Bahkan, sebagian pangan lokal pernah dilekatkan dengan kemiskinan atau kondisi darurat, seolah-olah tidak layak menjadi bagian dari meja makan yang modern.
Padahal, modernitas seharusnya memberi kita lebih banyak pilihan, bukan membuat kita kehilangan pilihan.
Ketika Gambut Rusak, Ada yang Hilang dari Piring Kita

Salah satu hal yang membuatku berhenti sejenak saat mengikuti diskusi adalah hubungan antara kerusakan lahan gambut dan keberlanjutan pangan.
Selama ini, kalau mendengar kabar karhutla, yang langsung terbayang biasanya asap tebal, pepohonan terbakar, langit yang menguning, dan warga yang kesulitan bernapas. Semua itu nyata dan serius. Namun, dampaknya ternyata tidak berhenti pada apa yang terlihat di permukaan.
Gambut merupakan ekosistem yang menyimpan banyak karbon dan air. Ketika lahan gambut dikeringkan melalui kanal untuk mengubah peruntukannya, kondisi alaminya terganggu. Gambut yang mengering menjadi lebih mudah terbakar, bahkan api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.
Persoalannya juga bisa merembet ke perairan. Pada kawasan tertentu yang mengandung mineral pirit, perubahan kondisi akibat pengeringan dan paparan udara dapat memicu oksidasi yang menghasilkan keasaman tinggi. Air yang tercemar dapat mengganggu kehidupan organisme perairan dan memengaruhi sumber penghidupan masyarakat.
Di titik ini, aku mulai melihat hubungan yang sebelumnya terasa jauh: ketika ekosistem rusak, bukan hanya pohon yang kehilangan tempat hidup. Ikan, tumbuhan yang biasa dimanfaatkan warga, dan sumber pangan yang tumbuh di sekitar mereka juga bisa terdampak.
Padahal, lahan gambut dan ekosistem pesisir menyimpan keragaman hayati yang penting bagi kehidupan masyarakat setempat. Ada sumber pangan, sumber penghasilan, sekaligus pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Bayangkan jika lingkungan yang selama ini menyediakan bahan pangan justru rusak karena dipaksa mengikuti pola pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan karakter alaminya.
Kita mungkin masih bisa membeli beras di pasar atau memesan makanan lewat aplikasi. Namun, bagaimana dengan masyarakat yang kehilangan sumber pangan dan penghidupan dari lingkungan sekitarnya?
Dari sini, bagiku, menjaga gambut bukan lagi sekadar urusan konservasi atau menyelamatkan pohon. Ada hubungan yang sangat dekat dengan keberlanjutan makanan di meja kita.
Hutan dan lahan gambut yang terjaga membantu mempertahankan keseimbangan ekosistem. Sementara itu, masyarakat yang masih memiliki akses terhadap sumber pangan lokal punya kesempatan lebih besar untuk mempertahankan pengetahuan dan kemandirian pangannya.
Tentu saja, pangan lokal tidak otomatis tersedia tanpa usaha atau perawatan. Ada proses budidaya, pengolahan, distribusi, dan tantangan ekonomi yang perlu diperhatikan. Namun, menjaga ekosistem tempat pangan itu tumbuh merupakan langkah awal yang tidak bisa diabaikan.
Memilih Pangan Lokal, Memulai dari Hal yang Paling Dekat

Setelah mengikuti diskusi itu, ingatanku kembali pada uwi, suweg, dan tiwul kukus di rumah kakek dan nenek.
Dulu, makanan itu hadir begitu saja dalam keseharian. Sekarang, aku justru perlu sengaja mengingatnya kembali. Rasanya sedikit ironis: kita hidup di negeri yang kaya sumber pangan, tetapi sebagian dari kita mungkin lebih akrab dengan tren makanan dari luar daripada bahan pangan yang tumbuh di sekitar sendiri.
Aku pun mulai memikirkan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan tanpa harus mengubah seluruh kebiasaan makan sekaligus.
Misalnya, sesekali mencari olahan singkong, ubi, atau talas sebagai alternatif sumber karbohidrat. Mencoba makanan berbahan sagu ketika menemukannya. Membeli produk pangan lokal dari produsen yang menjaga kualitas dan keberlanjutan. Atau sekadar bertanya kepada orang tua tentang makanan yang dulu biasa mereka konsumsi, tetapi sekarang jarang ditemukan.
Hal-hal kecil seperti ini mungkin tidak langsung menyelesaikan persoalan karhutla. Kita juga tidak bisa meletakkan seluruh tanggung jawab perlindungan hutan di pundak konsumen. Kebijakan tata kelola lahan, penegakan hukum, perlindungan masyarakat adat dan lokal, serta dukungan bagi petani dan produsen pangan tetap memegang peran penting.
Namun, sebagai konsumen, kita bisa mulai membangun hubungan yang lebih sadar dengan makanan sendiri. Kita bisa belajar dari mana bahan pangan berasal, bagaimana ia dibudidayakan, dan apa yang dibutuhkan agar sumber pangan tersebut tetap tersedia.
Bagiku, keberagaman pangan bukan tentang mengganti nasi dengan makanan lain hanya demi terlihat berbeda. Ini tentang mengembalikan pilihan yang selama ini mungkin terlupakan.
Aku ingin suatu hari nanti, anak-anak bisa mengenal sagu, tiwul, uwi, dan suweg bukan hanya dari cerita orang tua atau unggahan media sosial, melainkan sebagai bagian wajar dari kehidupan sehari-hari. Bukan makanan yang dianggap kuno, bukan pula pilihan terakhir ketika beras sulit didapat.
Sebab, ketika satu sumber pangan hilang, yang ikut hilang bisa lebih dari sekadar rasa. Ada pengetahuan, tradisi, mata pencaharian, dan hubungan manusia dengan alam yang ikut terputus.
Dari acara daring pada 16 Oktober lalu, aku pulang dengan satu pemikiran sederhana: menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar dan jauh. Kadang, ia bermula dari rasa ingin tahu tentang makanan di piring sendiri.
Apa yang kita makan memang pilihan pribadi. Tetapi, pilihan itu hidup di dalam sistem yang jauh lebih besar: kebijakan, budaya, ekonomi, dan ekosistem yang menopang kehidupan kita.
Mungkin kita tidak bisa menghentikan karhutla hanya dengan memilih pangan lokal. Namun, kita bisa mulai berhenti menganggap keragaman pangan sebagai sesuatu yang tidak penting.
Karena pada akhirnya, meja makan yang beragam membutuhkan alam yang tetap hidup.
Dan hutan yang terjaga bukan sekadar warisan untuk dilihat dari kejauhan. Ia juga bagian dari masa depan yang akan kita santap bersama.
#EcoBloggerSquad #PeatlandIsNotWasteland