Menjelang Bangkok Climate Action Week 2026 (BKKCAW) yang akan berlangsung pada 3–11 Oktober, pembicaraan tentang perubahan iklim kembali mengingatkan kita bahwa solusi untuk persoalan global tidak selalu harus datang dari tempat yang jauh atau teknologi yang serba canggih. Kadang, jawabannya justru sudah ada di sekitar kita: di hutan, di laut, di kebun, bahkan di tanaman yang tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat setiap hari.
Salah satu contoh menarik datang dari wilayah pesisir Raja Ampat, Papua. Di sana, masyarakat tidak hanya melihat mangrove sebagai tanaman yang berfungsi menahan abrasi atau menjaga garis pantai. Ekosistem mangrove juga dipandang sebagai bagian dari sumber pangan dan penghidupan. Buahnya dapat diolah menjadi tepung dan camilan, sementara ekosistemnya menopang ikan, kepiting, dan berbagai biota laut yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir.
Cerita ini membuat kita berpikir ulang tentang bagaimana seharusnya melihat alam. Menjaga lingkungan ternyata tidak harus berlawanan dengan upaya meningkatkan ekonomi masyarakat. Justru ketika alam dijaga dan dimanfaatkan dengan cara yang tepat, keduanya bisa berjalan beriringan. Dari kampung-kampung pesisir seperti Friwen, ada pelajaran sederhana yang relevan dengan percakapan global tentang iklim: solusi lokal bisa menciptakan manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.
Dan mungkin, pola yang sama sebenarnya bisa kita temukan di banyak tempat lain di Indonesia.
Ternyata, Alam Punya Banyak Cerita
Ada satu hal yang menarik dari tanaman dan alam di sekitar kita: sering kali manfaatnya jauh lebih banyak daripada yang selama ini kita bayangkan.
Kita mungkin melihat mangrove hanya sebagai tanaman yang tumbuh di pinggir laut. Fungsinya pun sering kali kita pahami sebatas menahan abrasi atau menjadi tempat berlindung biota laut. Padahal, kalau dikelola dengan bijak, ekosistem mangrove juga bisa menjadi sumber pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Cerita seperti ini salah satunya datang dari Raja Ampat, Papua. Di kawasan yang terkenal dengan laut dan keanekaragaman hayatinya itu, masyarakat mulai mengembangkan berbagai produk dari potensi mangrove. Buah mangrove tertentu dapat diolah menjadi tepung dan camilan, sementara ekosistem mangrove juga mendukung perikanan serta menjadi sumber nektar bagi lebah penghasil madu.
Menariknya, gagasan ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Indonesia punya begitu banyak tanaman lokal yang manfaatnya lebih dari satu. Labu siam, kelor, singkong, pisang, sampai berbagai tanaman pesisir bisa dikembangkan menjadi produk pangan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Mangrove Bukan Sekadar Penahan Abrasi
Kalau bicara mangrove, hal pertama yang biasanya terlintas adalah hutan di pinggir laut dengan akar-akar yang menjulang. Padahal, ekosistem ini punya peran besar dalam menjaga kehidupan di sekitarnya.
Akar mangrove menjadi tempat berlindung dan tumbuh bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan biota laut lainnya. Daun yang gugur kemudian menjadi bagian dari rantai makanan di ekosistem pesisir. Mangrove juga membantu menyaring sedimen sehingga kualitas air di kawasan pesisir tetap terjaga.
Sederhananya, mangrove seperti rumah sekaligus dapur bagi banyak kehidupan laut.
Ketika mangrove sehat, habitat ikan dan biota laut juga lebih terjaga. Dampaknya tentu tidak berhenti pada lingkungan. Masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut ikut merasakan manfaatnya. Nelayan punya sumber daya yang lebih terjaga, sementara keluarga di pesisir memiliki akses terhadap sumber pangan dan penghasilan.
Itulah kenapa menjaga mangrove sebenarnya bukan hanya urusan lingkungan. Ada urusan pangan dan ekonomi keluarga di dalamnya.
Dari Buah Mangrove menjadi Produk Pangan
Bagian yang tidak kalah menarik adalah bagaimana masyarakat mulai melihat mangrove bukan hanya sebagai ekosistem yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan secara hati-hati.
Di Kampung Friwen, Raja Ampat, misalnya, masyarakat mengembangkan pemanfaatan buah mangrove untuk produk olahan. Salah satunya melalui kelompok usaha masyarakat yang mengolah buah mangrove atau aibon menjadi tepung dan camilan.
Di sinilah konsep nilai tambah bekerja.
Daripada seluruh hasil alam hanya dijual dalam bentuk mentah, sebagian bisa diolah menjadi produk baru. Tepung bisa menjadi bahan untuk berbagai makanan. Buah dapat dikembangkan menjadi camilan atau produk pangan lainnya. Dengan pengolahan, kemasan, dan pemasaran yang tepat, nilai ekonominya bisa meningkat.
Bahkan, ekosistem mangrove juga membuka peluang usaha lain. Ada madu mangrove yang dihasilkan melalui pemeliharaan lebah di kawasan yang memiliki vegetasi mangrove. Ada pula potensi produk olahan lain seperti sirup, teh, selai, atau makanan berbasis bahan lokal.
Tentu tidak berarti semua jenis mangrove bisa dimakan atau seluruh bagian tanaman aman untuk dikonsumsi. Pemanfaatannya harus mengikuti pengetahuan lokal, jenis tanaman yang tepat, cara pengolahan yang aman, serta prinsip keberlanjutan. Jangan sampai keinginan mendapatkan nilai ekonomi justru merusak ekosistem yang menjadi sumber kehidupan itu sendiri.
Ketika Perempuan Menjadi Penggerak Ekonomi
Cerita tentang pemanfaatan mangrove juga menarik karena banyak aktivitas pengolahan produk dilakukan di tingkat rumah tangga dan melibatkan perempuan.
Bayangkan sebuah hasil alam yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan sekitar, kemudian diolah menjadi tepung, camilan, atau produk pangan. Ada proses produksi, pengemasan, menentukan harga, menerima pesanan, sampai memasarkannya kepada konsumen.
Artinya, konservasi bisa berjalan berdampingan dengan pemberdayaan ekonomi.
Di Kampung Friwen, kelompok masyarakat mengembangkan produk mangrove sebagai bagian dari usaha lokal. Keterlibatan perempuan dalam aktivitas pengolahan dan bisnis rumahan menjadi salah satu contoh bahwa ekonomi berbasis alam tidak harus selalu dimulai dari industri besar.
Kadang, ia justru tumbuh dari dapur rumah, kelompok kecil, pengetahuan turun-temurun, dan keberanian mencoba sesuatu yang baru.
Alam yang Dijaga, Pangan yang Terjaga
Ada hubungan yang sangat sederhana antara mangrove, ikan, pangan, dan ekonomi.
Mangrove yang sehat menyediakan tempat hidup bagi berbagai biota. Biota laut yang terjaga membantu menyediakan sumber pangan. Sumber daya yang berkelanjutan kemudian bisa mendukung penghasilan masyarakat.
Begitu satu bagian rusak, bagian lain ikut terdampak.
Perubahan iklim membuat persoalan ini semakin penting. Kenaikan permukaan laut, perubahan pola hujan, suhu laut yang meningkat, cuaca ekstrem, hingga pengasaman laut dapat memberikan tekanan pada ekosistem pesisir. Ketika lingkungan berubah, masyarakat yang hidup bergantung pada alam menjadi salah satu kelompok yang ikut merasakan dampaknya.
Karena itu, menjaga mangrove bukan hanya tentang menanam bibit sebanyak-banyaknya. Yang tidak kalah penting adalah memastikan ekosistemnya tetap hidup dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya punya alasan ekonomi untuk ikut menjaganya.
Kearifan Lokal dan Cara Menjaga Alam
Masyarakat pesisir sebenarnya sudah lama memiliki cara sendiri dalam mengatur hubungan dengan alam. Salah satunya melalui tradisi sasi, yaitu pengaturan pemanfaatan sumber daya alam berdasarkan kesepakatan masyarakat dan aturan adat.
Ada masa ketika kawasan atau sumber daya tertentu tidak boleh diambil agar memiliki kesempatan untuk pulih. Setelah waktunya tiba dan aturan bersama mengizinkan, pemanfaatan dapat dilakukan kembali.
Cara seperti ini menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu harus datang dalam bentuk aturan yang rumit. Ada pengetahuan lokal yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat hidup bersama alam.
Karena itu, pengelolaan mangrove idealnya juga melibatkan masyarakat setempat. Mereka bukan hanya penerima program, tetapi orang-orang yang sehari-hari paling dekat dengan kawasan tersebut.
Mereka tahu kapan laut berubah, kapan ikan mulai sulit ditemukan, tanaman mana yang tumbuh baik, dan bagian mana dari kawasan yang perlu dijaga lebih ketat.
Dari Kampung, Menjadi Inspirasi yang Lebih Luas
Hal menarik dari cerita mangrove Raja Ampat adalah gagasannya sebenarnya bisa diterapkan di banyak tempat, tentu dengan menyesuaikan jenis tanaman dan kondisi lokal.
Di satu daerah mungkin ada mangrove. Di tempat lain ada kelor. Di daerah pegunungan ada tanaman yang selama ini hanya dijual mentah. Di desa pertanian mungkin ada singkong, labu, pisang, atau tanaman lain yang bisa dikembangkan menjadi produk olahan.
Prinsipnya sederhana: jangan hanya melihat apa yang bisa dijual dari alam, tetapi lihat juga apa yang bisa diciptakan tanpa merusak alam.
Sebuah tanaman bisa memiliki manfaat ekologis sekaligus manfaat ekonomi. Yang satu menjaga tanah dan air, yang lain menjadi sumber pangan. Yang satu menjaga habitat, yang lain membuka peluang usaha.
Di situlah konsep nilai tambah menjadi menarik. Masyarakat tidak hanya menjadi penjual bahan mentah, tetapi bisa menjadi pengolah, pembuat produk, sekaligus pemilik cerita di balik produk tersebut.
Dari Aksi Lokal ke Percakapan Global
Cerita-cerita seperti ini menjadi semakin relevan ketika dunia berbicara tentang perubahan iklim dan ekonomi berkelanjutan. Menjelang Bangkok Climate Action Week 2026, pengalaman dari komunitas lokal seperti di Raja Ampat menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan besar tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar pula.
Bisa dimulai dari kampung.
Dari masyarakat yang menjaga mangrove. Dari perempuan yang mengolah hasil alam menjadi produk pangan. Dari nelayan yang memahami pentingnya habitat ikan. Dari kelompok kecil yang mencoba menjual produk lokal dengan kemasan yang lebih baik.
Yang kemudian dibutuhkan adalah bagaimana inisiatif kecil tersebut mendapatkan akses terhadap pengetahuan, pembiayaan, teknologi pengolahan, pasar, dan pendampingan tanpa kehilangan kendali masyarakat atas sumber daya mereka sendiri.
Sebab pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya tentang menyelamatkan alam dari manusia. Lebih jauh dari itu, keberlanjutan adalah mencari cara agar manusia bisa hidup bersama alam tanpa menghabiskannya.
Mangrove lestari, laut terjaga, pangan tersedia, dan masyarakat punya penghasilan.
Mungkin sesederhana itu.
Dan mungkin, justru dari hal-hal sederhana seperti inilah masa depan yang lebih berkelanjutan bisa mulai dibangun.
Kalau di sekitar tempat tinggalmu ada tanaman lokal yang punya banyak manfaat, kira-kira tanaman apa? Bisa jadi, ada potensi besar yang selama ini kita lihat setiap hari tetapi belum pernah kita olah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.