Ada sesuatu yang berbeda ketika saya menghadiri Dialog Kebangsaan dan Konferensi Pers Pementasan Teater Merajut Sendja di Sasana Budaya “Rumah Kita” Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Siang itu, 14 Agustus, suasananya bukan sekadar seperti sebuah agenda menjelang perayaan kemerdekaan. Ada percakapan tentang Indonesia, tentang cita-cita yang belum selesai, dan tentang bagaimana kemerdekaan seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Kegiatan ini digagas PARFI 56 bersama Dompet Dhuafa untuk mengajak masyarakat kembali merenungkan makna kemerdekaan di usia Republik Indonesia yang ke-81.
Saya datang sebagai bagian dari orang-orang yang ingin mendengar percakapan itu dari dekat. Ada dialog kebangsaan, konferensi pers tentang pementasan Merajut Sendja, hingga peluncuran Social Fund PARFI 56 x Dompet Dhuafa. Dari rangkaian acara itu, saya justru pulang membawa satu kesadaran sederhana: mencintai Indonesia mungkin bukan hanya soal bagaimana kita berbicara tentang bangsa ini, tetapi juga tentang apa yang bersedia kita lakukan untuk sesama.
Indonesia Bukan Sekadar Nama, Ia adalah Cita-Cita
Di awal acara, saya kembali diingatkan pada sesuatu yang sering terasa terlalu besar untuk percakapan sehari-hari: Indonesia pada mulanya adalah sebuah cita-cita.
Dalam kerangka kegiatan yang dibagikan penyelenggara, Indonesia digambarkan sebagai gagasan yang kemudian tumbuh menjadi kesadaran kebangsaan. Dari istilah etnografi tentang kepulauan Nusantara, Indonesia berkembang menjadi gagasan sebuah bangsa yang mampu memimpin perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme. Cita-cita itu kemudian menemukan pijakannya dalam konstitusi: Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Mendengarnya di sebuah ruangan pada Agustus seperti ini membuat saya berpikir: mungkin kita terlalu sering menganggap kemerdekaan sebagai sesuatu yang sudah selesai. Padahal, kalau melihat kembali cita-cita para pendiri bangsa, kemerdekaan justru seperti pekerjaan rumah yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kita boleh memasang bendera. Kita boleh mengikuti upacara. Kita boleh membuat lomba tujuh belasan dan memenuhi media sosial dengan warna merah putih. Semua itu penting. Tetapi setelah perayaan selesai, pertanyaannya tetap sama: apakah semakin banyak orang Indonesia yang bisa hidup layak? Apakah kesempatan semakin terbuka? Apakah mereka yang berada di pinggir kehidupan sosial ikut merasakan kemerdekaan?
Di titik itu, Pancasila terasa bukan sebagai hafalan yang selesai ketika ujian sekolah berakhir. Ia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga bicara tentang kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Mungkin itulah mengapa dialog kebangsaan semacam ini masih relevan. Karena Indonesia terus berubah, sementara cita-citanya tetap perlu diperjuangkan.
Ketika Sejarah Dipertemukan dengan Panggung
Bagian yang paling menarik bagi saya adalah ketika gagasan-gagasan besar tentang bangsa kemudian dibawa ke medium seni. Ada sesuatu yang terasa lebih dekat ketika pembicaraan tentang Indonesia tidak hanya disampaikan melalui data, pidato, atau narasi sejarah, tetapi diterjemahkan menjadi cerita dan dialog di atas panggung.
Pementasan Merajut Sendja diangkat dari naskah-naskah perenungan Yudi Latif, Dewan Pembina Dompet Dhuafa. Pementasan ini menghadirkan dialog para tokoh pendiri bangsa dan disutradarai oleh Olivia Zalianty, Pengurus PARFI 56.
Saya selalu merasa sejarah punya cara yang berbeda ketika diceritakan melalui manusia, bukan sekadar angka dan tanggal. Membaca sejarah membuat kita tahu apa yang terjadi. Tetapi seni membuat kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana rasanya berada di tengah peristiwa itu?
Di situlah teater menjadi menarik. Panggung bukan sekadar tempat mengulang cerita masa lalu, melainkan ruang untuk bercermin. Apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan hari ini? Apakah cita-cita kemerdekaan masih terasa dekat bagi generasi muda? Dan jika para pendiri bangsa bisa berbicara dengan kita hari ini, kira-kira apa yang akan mereka tanyakan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting untuk terus dihidupkan. Sebab bangsa yang sehat bukan hanya bangsa yang bangga pada masa lalunya, tetapi juga bangsa yang berani melihat kembali perjalanan hari ini.
Dialog Kebangsaan ini memang dirancang untuk mempertemukan gagasan cendekiawan kebangsaan, pekerja seni, dan generasi muda sebagai inspirasi dalam melihat persoalan bangsa saat ini.
Bagi saya, ada sesuatu yang indah dari cara tersebut. Politik dan kebangsaan tidak selalu harus dibicarakan dengan bahasa yang kaku. Kadang kita justru membutuhkan dialog, seni, dan cerita untuk mengingat kembali alasan mengapa Indonesia dulu diperjuangkan—dan mengapa cita-cita itu masih layak kita rawat hari ini.
Mengisi Kemerdekaan dengan Sesuatu yang Nyata

Menjelang acara berakhir, ada satu bagian yang menurut saya menjadi penghubung paling konkret antara gagasan dan tindakan: peluncuran Social Fund PARFI 56 x Dompet Dhuafa.
Sebab pada akhirnya, berbicara tentang kemerdekaan akan terasa kosong jika tidak pernah berujung pada tindakan. Dalam kerangka kegiatan tersebut, masyarakat diajak mengisi kemerdekaan melalui berbagai aksi sosial, salah satunya dengan berkontribusi melalui program PARFI 56 x Dompet Dhuafa Social Fund.
Saya kemudian teringat bahwa mungkin kontribusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kita tidak harus menunggu menjadi orang kaya untuk membantu. Tidak harus menunggu punya jabatan. Bahkan tidak harus menunggu datangnya momentum bencana atau perayaan tertentu.
Kadang, kemerdekaan justru bisa kita isi dari hal-hal yang sederhana: membantu seseorang mendapatkan akses pendidikan, ikut meringankan beban keluarga yang sedang kesulitan, mendukung pemberdayaan masyarakat, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan.
Di sinilah peran lembaga seperti Dompet Dhuafa menjadi relevan. Gagasan tentang kepedulian bisa diterjemahkan menjadi aksi sosial yang lebih terarah. Dan bagi saya, ajakan untuk berdonasi bukan sekadar soal memberikan uang. Ia adalah cara kecil untuk mengatakan bahwa kita masih peduli dengan keadaan orang lain.
Kalau kemerdekaan adalah “jembatan emas” menuju masyarakat yang adil dan makmur, maka setiap orang punya kesempatan untuk ikut membangun jembatan itu.
Sepulang dari Rumah Kita siang itu, saya membawa pulang satu pikiran: barangkali cara paling sederhana merayakan Indonesia bukan hanya dengan bertanya, “Apa yang sudah negara berikan kepada kita?”
Tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya berikan kepada Indonesia dan orang-orang di sekitar saya?”
Kalau ingin memulai dari sesuatu yang sederhana, kita bisa ikut mendukung gerakan sosial yang membuka ruang bagi lebih banyak orang untuk hidup lebih layak. Salah satunya melalui Dompet Dhuafa dan program PARFI 56 x Dompet Dhuafa Social Fund.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan adalah ketika semakin banyak orang punya kesempatan untuk hidup dengan martabat. Dan mungkin, tugas kita adalah memastikan mereka tidak berjalan sendirian.