Ketika Difabel Jualan Live dan Kita yang Normal Masih Takut Kamera

0 Shares
0
0
0

0Ada semacam ironi kecil di era digital: kamera ada di mana-mana, tapi keberanian justru sering ketinggalan. Banyak dari kita, yang merasa tubuh dan pikiran “normal”, masih gemetar ketika diminta berbicara di depan lensa. Takut salah ucap, takut dinilai, takut tak cukup layak dilihat.

Sementara itu, di sebuah ruangan pelatihan di Islamic Village, Kabupaten Tangerang, sekelompok difabel justru sedang belajar menyapa dunia lewat kamera, dengan kesungguhan yang diam-diam menampar rasa aman kita sendiri.

Pelatihan Digital Live Selling yang digelar Institut Kemandirian bersama Yayasan Difabel Mandiri Indonesia dan Rakamin ini bukan sekadar soal teknik jualan. Ia adalah latihan keberanian, kemandirian, sekaligus pembongkaran asumsi lama tentang siapa yang pantas tampil dan siapa yang sebaiknya bersembunyi.

Lima belas peserta yang lolos seleksi tak datang membawa belas kasihan, melainkan niat untuk berdiri setara di ruang digital, ruang yang selama ini kita klaim terbuka, tapi sering kita tutup dengan ketakutan kita sendiri.

Belajar Menatap Kamera dari Mereka yang Sehari-hari Ditatap Sebelah Mata

Selama ini, kamera sering terasa seperti hakim yang diam-diam mengadili. Ia merekam wajah, suara, dan gerak tubuh, lalu menyerahkannya pada penilaian publik yang tak pernah benar-benar ramah. Bagi banyak orang, tatapan kamera saja sudah cukup untuk memicu gugup berlebihan. Padahal, kegugupan itu sering lahir bukan dari kurangnya kemampuan, melainkan dari ketakutan akan penilaian. Ironisnya, ketakutan semacam ini justru banyak bersarang pada mereka yang selama ini merasa hidupnya paling “normal”.

Berbeda dengan para peserta pelatihan Digital Live Selling di Kabupaten Tangerang. Mereka adalah difabel, termasuk penyandang disabilitas mental—yang dalam keseharian justru lebih sering menjadi objek tatapan: ditatap dengan rasa kasihan, dicurigai, bahkan kadang diabaikan. Namun di ruang pelatihan, tatapan itu dibalik arahnya. Kamera bukan lagi alat yang menghakimi, melainkan jendela untuk berbicara, menyapa, dan menyatakan keberadaan diri. Keberanian mereka tidak datang tiba-tiba, melainkan lahir dari proses seleksi dan kesungguhan yang sejak awal sudah diuji.

Lima belas peserta yang terpilih bukan sedang mencoba membuktikan diri pada dunia, tapi sedang berdamai dengan dirinya sendiri. Mereka belajar menatap kamera seperti menatap kemungkinan: kemungkinan untuk mandiri, untuk berdaya, dan untuk tidak lagi didefinisikan oleh keterbatasan. Di titik ini, kamera berhenti menjadi benda menakutkan. Ia berubah menjadi saksi bahwa keberanian tidak selalu tumbuh dari privilese, tapi sering justru lahir dari pengalaman hidup yang selama ini kita anggap sebagai kekurangan.

Pelatihan Digital yang Bukan Cuma Soal Jualan, tapi Soal Harga Diri dan Kemandirian

Di atas kertas, pelatihan ini terdengar teknis: Digital Live Selling, platform e-commerce, media sosial, durasi empat hari, ditambah kelas praktik sepuluh hari. Tapi di balik modul dan jadwal itu, ada sesuatu yang lebih mendasar sedang dibangun, rasa percaya diri. Direktur Institut Kemandirian, Abdurrahman Usman, menegaskan bahwa tujuan pelatihan ini bukan sekadar membuat peserta bisa menjual produk, melainkan mampu berdiri di atas kaki sendiri dan memberi manfaat bagi orang lain. Jualan hanyalah medium; kemandirian adalah tujuan yang sebenarnya.

Kesungguhan menjadi kata kunci yang berulang. Para peserta bukan dipilih secara acak, melainkan melalui proses seleksi oleh tim Rakamin. Artinya, mereka datang bukan sebagai objek program, tapi sebagai subjek yang memang ingin belajar. Di ruang pelatihan, relasi tidak dibangun atas dasar belas kasihan, melainkan atas dasar kapasitas. Instruktur dari Rakamin dan Yayasan Difabel Mandiri Indonesia hadir sebagai pendamping, bukan penolong. Dan di situ, pelatihan berubah menjadi ruang setara, tempat difabel tidak “dikasihani”, tapi dihargai.

Yang menarik, pelatihan ini juga menyinggung sesuatu yang sering absen dari diskursus digital: makna. Usman mendorong peserta untuk meniatkan proses belajar sebagai ibadah, agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada angka penjualan. Apalagi kegiatan ini berlangsung di gedung wakaf milik Bapak Markum Amir Raja Batubara dan istri, sebuah pengingat bahwa kemandirian sering lahir dari solidaritas. Di titik ini, pelatihan digital tak lagi sekadar soal algoritma dan kamera, tapi tentang bagaimana manusia saling menguatkan di dunia yang makin cepat bergerak.

Ketika Live Selling Jadi Ibadah: Kamera, Wakaf, dan Niat yang Pelan-pelan Diluruskan

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang sering mengukur segalanya dengan angka, view, like, dan konversi, pelatihan ini menawarkan jeda yang jarang. Di sini, kamera tidak hanya berfungsi sebagai alat promosi, tapi juga sebagai sarana latihan niat. Abdurrahman Usman mengingatkan bahwa setiap proses belajar bisa bernilai ibadah jika dijalani dengan kesungguhan. Sebuah pengingat sederhana, tapi penting, terutama di era ketika produktivitas kerap dipisahkan dari makna.

Gedung tempat pelatihan ini berlangsung pun menyimpan cerita sendiri. Ia berdiri dari wakaf Bapak Markum Amir Raja Batubara beserta istri, sebuah bentuk filantropi yang tak ribut, tapi berdampak panjang. Ruang fisik ini menjadi saksi bagaimana ilmu, kesempatan, dan kepercayaan bisa bertemu dalam satu titik. Bagi para peserta, keberadaan gedung ini bukan sekadar fasilitas, melainkan simbol bahwa ada orang-orang yang percaya pada potensi mereka, bahkan sebelum dunia digital memberi panggung.

Pada akhirnya, pelatihan Digital Live Selling ini bukan hanya tentang difabel yang belajar berjualan, tapi tentang kita semua yang diajak bercermin. Tentang keberanian yang sering kita tunda, tentang rasa takut yang kita pelihara sendiri, dan tentang kamera yang sebenarnya tidak sekejam itu. Lima belas peserta di Kabupaten Tangerang telah menyalakan kameranya. Pertanyaannya, kapan kita berhenti bersembunyi di balik alasan, dan mulai menatap dunia dengan keberanian yang sama?

 

 

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like