Seniman Pangan, ketika Nongkrong di Kafe Membawa Saya Sampai ke Kebun

0 Shares
0
0
0

Ada jenis kafe yang membuat kita betah karena kopinya enak, tempatnya nyaman, atau interiornya Instagramable. Tapi ada juga tempat yang setelah kita datangi justru membuat kita pulang membawa pertanyaan baru.

Seniman Pangan di Bekasi termasuk yang kedua.

Awalnya saya membayangkan kunjungan ke sini akan seperti kunjungan ke kafe pada umumnya: duduk, makan, ngobrol, mungkin mengambil beberapa foto, lalu pulang. Ternyata saya salah. Di tempat ini, pengalaman makan justru dimulai jauh sebelum makanan sampai ke meja.

Saya diajak melihat kebun, belajar tentang tanaman pangan, ikut merasakan proses panen, mengenal cara mengolah hasil kebun, sampai mencicipi makanan yang membawa cerita dari berbagai daerah di Indonesia.

Yang paling menarik, semua itu membuat saya melihat makanan dengan cara yang sedikit berbeda.

Selama ini kita sering menganggap makanan sebagai sesuatu yang selesai ketika tersaji di piring. Padahal, sebelum menjadi nasi, sayur, sambal atau dessert, ada tanah, benih, petani, pengetahuan tradisional, komunitas lokal, dan perjalanan panjang yang sering tidak kita lihat.

Dari meja kafe ke tanah kebun

Belajar menanam kembali apa yang sudah diberikan alam.

Hal pertama yang membuat kunjungan ke Seniman Pangan terasa berbeda adalah kebunnya.

Total lahan yang dimiliki sekitar tiga hektare, meski saat ini baru sekitar 1,5 hektare yang dikelola. Jadi, ketika datang ke sini, kita tidak hanya melihat tanaman sebagai dekorasi hijau di sekitar kafe.

Ada aktivitas pertanian yang benar-benar berjalan.

Dalam farm tour, saya diajak berkeliling dan melihat bagaimana bahan pangan ditanam dan dirawat. Pengunjung juga bisa belajar menanam, memahami cara memupuk tanaman, hingga ikut merasakan pengalaman memanen kopi dan singkong.

Buat saya, bagian ini justru menjadi salah satu pengalaman paling menyenangkan.

Ada sensasi berbeda ketika kita melihat langsung bahan makanan yang selama ini hanya kita kenal dalam bentuk sudah jadi. Singkong yang biasanya muncul sebagai gorengan atau makanan tradisional, misalnya, ternyata punya perjalanan panjang sebelum sampai ke meja.

Begitu juga kopi.

Kita terbiasa melihat kopi sebagai minuman dalam cangkir. Di kebun, kita dipaksa mengingat bahwa kopi bermula dari tanaman yang harus dirawat, dipanen, diproses, dan diolah sebelum akhirnya menjadi minuman yang kita pesan sambil bekerja atau ngobrol.

Sederhana, tapi membuat perspektif sedikit bergeser.

Di Seniman Pangan, saya seperti diajak mundur beberapa langkah dari meja makan. Melihat kembali asal-usul makanan sebelum semuanya berubah menjadi menu cantik.

Ketika kemangi berubah menjadi sirup

Ketika kemangi disulap jadi sirup.

Bagian lain yang tidak kalah menarik adalah ketika hasil kebun tidak berhenti sebagai hasil panen.

Kami diajak mengolah bahan yang dipanen menjadi produk pangan.

Salah satunya kemangi. Tanaman yang selama ini lebih akrab dengan saya sebagai teman lalapan ternyata bisa diolah menjadi sirup.

Dan ternyata rasanya menyegarkan.

Saya termasuk orang yang cukup akrab dengan kemangi sebagai pelengkap makanan. Tapi jujur, sebelum datang ke sini saya tidak pernah membayangkan kemangi bisa masuk ke dalam botol sirup.

Kami juga membuat selai rosela.

Di titik ini saya mulai menangkap gagasan yang lebih besar dari sekadar kegiatan berkebun. Pangan lokal sebenarnya punya kemungkinan yang jauh lebih luas jika pengetahuan tentang pengolahan terus dikembangkan.

Salah satu contoh lain yang diperkenalkan kepada kami adalah pelepah nipah yang dapat diolah menjadi garam.

Saya baru tahu.

Justru hal-hal semacam ini yang membuat pengalaman di Seniman Pangan terasa penting. Ada banyak pengetahuan pangan yang hidup di berbagai daerah, tetapi mungkin tidak pernah sampai ke meja makan kita karena kita terlalu terbiasa dengan bahan pangan yang itu-itu saja.

Padahal, Indonesia punya kekayaan pangan yang luar biasa.

Persoalannya bukan selalu kekurangan bahan pangan. Kadang kita hanya belum cukup mengenal, mengolah, dan memberi nilai pada apa yang sudah tersedia di sekitar kita.

Hasil kebun yang dikelola Seniman Pangan bahkan telah menjadi komoditas ekspor. Produk yang dihasilkan melalui proses organik dan pendekatan produksi yang lebih berkelanjutan bisa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dari sini saya mulai melihat bahwa berkebun tidak selalu berarti kembali ke masa lalu.

Pertanian juga bisa menjadi bagian dari masa depan.

Satu meja, banyak cerita dari Indonesia

Ternyata negara kita kaya dengan bahan pangan lokal.

Setelah berkeliling kebun, pengalaman berlanjut ke meja makan.

Dan di sinilah perjalanan saya seperti berpindah dari satu daerah ke daerah lain.

Menu yang disajikan Seniman Pangan memperkenalkan makanan dari berbagai wilayah Indonesia. Ada Inter Singkong dari Bogor, Nasi Subut dari Kalimantan, Ayam Tangkap dari Aceh, ikan goreng, serta tahu dan tempe bacem.

Ada pula sate singkong dengan sambal kacang dari Mollo, Nusa Tenggara Timur, dan perkedel jagung dari wilayah yang sama.

Untuk condiment, ada Sambal Beberok dari Nusa Tenggara Barat dan sambal terong belanda dari Sumatera Selatan, ditemani kerupuk atau emping.

Bagian penutupnya juga tidak kalah menarik. Ada rujak Aceh dan Sagu Sep Pisang dengan gelato dari Papua.

Saya suka konsep seperti ini karena makanan tidak hanya diposisikan sebagai sesuatu yang harus enak.

Ia membawa cerita.

Satu menu bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal sebuah daerah, bahan pangan, tradisi, bahkan masyarakat yang menjaga pengetahuan tersebut tetap hidup.

Kita mungkin tidak bisa mengunjungi semua daerah Indonesia dalam satu perjalanan. Tapi lewat makanan, kita bisa mencicipi sedikit cerita dari tempat-tempat tersebut.

Dan di situlah makanan menjadi lebih dari sekadar konsumsi.

Ia menjadi cara untuk mengenal kebudayaan.

Dari pangan lokal ke restorasi ekonomi

Kafe Seniman Pangan

Kunjungan ke Seniman Pangan akhirnya membuat saya berpikir tentang satu hal yang lebih besar: hubungan antara makanan yang kita pilih dan kehidupan orang-orang di belakangnya.

Tanggal 9 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia atau International Day of the World’s Indigenous Peoples.

Momentum ini relevan ketika kita bicara tentang pangan lokal dan pengetahuan tradisional.

Masyarakat adat dan komunitas lokal atau Indigenous Peoples and Local Communities (IPLC) memiliki pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tentang tanaman, cara bercocok tanam, pengolahan pangan, hingga cara menjaga hubungan dengan alam.

Sayangnya, dalam ekonomi modern, pengetahuan seperti ini sering dianggap kuno.

Padahal bisa jadi justru di sanalah ada pengetahuan yang kita butuhkan untuk membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Seniman Pangan memperlihatkan satu kemungkinan sederhana: pangan lokal dapat menjadi bagian dari restorasi ekonomi.

Ketika bahan pangan dari daerah setempat dihargai, diolah, dikembangkan, lalu memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, manfaatnya tidak berhenti di dapur.

Ada petani yang mendapatkan nilai dari hasil tanamannya. Ada pengetahuan tradisional yang kembali diperkenalkan. Ada bahan pangan yang sebelumnya kurang dikenal menjadi sesuatu yang bisa dinikmati lebih banyak orang.

Dan sebagai konsumen, kita sebenarnya punya peran kecil dalam rantai tersebut.

Tidak harus melakukan sesuatu yang besar.

Kadang dimulai dari pilihan sederhana di meja makan: memilih makanan lokal, mengenal asal bahannya, atau mencoba makanan yang berasal dari komunitas yang berbeda.

Dari rumah pun kita bisa ikut menjaga pengetahuan pangan tetap hidup.

Buat saya, itulah hal paling menarik dari Seniman Pangan.

Saya datang dengan bayangan akan mengunjungi sebuah kafe. Tapi pulangnya justru membawa cerita tentang tanah, tanaman, makanan, budaya, dan orang-orang yang selama ini bekerja jauh dari meja makan kita.

Di sini, prosesnya terasa lengkap: belajar, menanam, memanen, mengolah, lalu menikmati.

Dan mungkin memang sudah waktunya kita mengubah cara melihat makanan.

Bukan cuma bertanya, “Enak nggak?”

Tapi sesekali juga bertanya, “Makanan ini datang dari mana, siapa yang menanamnya, dan pengetahuan apa yang ikut sampai ke piring saya?”

Kalau sedang mencari tempat nongkrong yang menawarkan pengalaman lebih dari sekadar kopi dan foto-foto, Seniman Pangan bisa menjadi pilihan.

Karena kadang, cara terbaik memahami makanan bukan dengan membaca menunya.

Tapi dengan menginjak tanah tempat makanan itu tumbuh.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like