Saat Kita Menutup Tahun dengan Resolusi, Sumatera Menutup Pintu Rumahnya karena Bencana

0 Shares
0
0
0

Akhir tahun sering kita rayakan dengan cara yang seragam: membuat resolusi, merangkum pencapaian, lalu mengucap syukur atas hidup yang “masih baik-baik saja”. Timeline penuh kilas balik, angka target, dan rencana besar untuk tahun depan. Kita menutup tahun dengan harapan, seolah semua orang punya kemewahan yang sama untuk memikirkan masa depan dengan tenang.

Di saat yang sama, di banyak wilayah Sumatera, akhir tahun justru datang dalam bentuk yang jauh lebih keras. Hujan tak berhenti, tanah bergerak, rumah-rumah terpaksa ditinggalkan. Bagi sebagian orang, resolusi bukan lagi soal ingin lebih sehat atau lebih produktif, melainkan bagaimana bertahan esok hari, di mana tidur, dan dari mana makanan datang.

Di titik inilah kita diingatkan bahwa akhir tahun tidak pernah netral. Ia bisa menjadi perayaan bagi sebagian, dan ujian bagi sebagian yang lain. Ketika jarak antara syukur dan duka terasa begitu dekat, barangkali yang paling masuk akal bukan menambah daftar keinginan, melainkan membuka ruang kepedulian, agar tahun tidak hanya selesai, tapi juga bermakna.

Akhir Tahun Tidak Datang Sama Rata

Dok. Dompet Dhuafa

Sebagian dari kita menutup tahun dengan kalender penuh rencana. Target baru disusun rapi, harapan dilipat dengan optimisme, seolah waktu selalu berpihak pada siapa saja yang sempat merencanakannya. Akhir tahun menjadi momen untuk berhenti sejenak, menarik napas, lalu melangkah lagi dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, di Sumatera, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda. Hujan yang datang tanpa jeda mengubah hari-hari biasa menjadi rangkaian kecemasan. Rumah tak lagi menjadi tempat pulang, melainkan kenangan yang terpaksa ditinggalkan. Di sini, akhir tahun tidak dirayakan, ia dihadapi.

Perbedaan ini menunjukkan satu hal sederhana: hidup tidak dibagi secara adil. Ada yang punya ruang untuk bermimpi, ada yang sibuk memastikan dirinya tetap aman. Ketika sebagian orang berbicara tentang resolusi, sebagian lainnya justru kehilangan kepastian paling dasar.

Akhir tahun memang datang ke semua orang, tapi dampaknya tidak pernah sama. Dari sini kita belajar bahwa empati bukan soal merasa iba, melainkan menyadari bahwa keberuntungan sering kali bekerja diam-diam, dan menuntut tanggung jawab untuk dibagikan.

Bencana Bukan Sekadar Berita Lewat

Bencana sering kita pahami sebatas angka: berapa rumah rusak, berapa orang terdampak, berapa bantuan disalurkan. Angka-angka itu penting, tapi kerap membuat kita lupa bahwa di baliknya ada hidup yang terhenti mendadak, rutinitas yang patah, dan rasa aman yang hilang begitu saja.

Di pengungsian, hari tidak lagi dihitung dengan tanggal, melainkan dengan antrean air bersih, pembagian makanan, dan kabar kapan bantuan datang. Anak-anak belajar menerima jeda panjang dari sekolah, sementara orang tua belajar menekan cemas agar tetap terlihat kuat di depan keluarga.

Karena itu, bencana tidak pernah sekadar berita lewat di layar. Ia adalah cerita panjang tentang orang-orang yang berusaha bertahan, menata ulang hidup dari puing-puing, dan berharap dunia di luar sana tidak cepat berpaling.

Zakat Akhir Tahun dan Maknanya yang Lebih Jauh

Akhir tahun sering kita rayakan dengan cara yang seragam: membuat resolusi, merangkum pencapaian, lalu mengucap syukur atas hidup yang “masih baik-baik saja”. Timeline penuh kilas balik, angka target, dan rencana besar untuk tahun depan. Kita menutup tahun dengan harapan, seolah semua orang punya kemewahan yang sama untuk memikirkan masa depan dengan tenang.

Di saat yang sama, di banyak wilayah Sumatera, akhir tahun justru datang dalam bentuk yang jauh lebih keras. Hujan tak berhenti, tanah bergerak, rumah-rumah terpaksa ditinggalkan. Bagi sebagian orang, resolusi bukan lagi soal ingin lebih sehat atau lebih produktif, melainkan bagaimana bertahan esok hari, di mana tidur, dan dari mana makanan datang.

Di titik inilah kita diingatkan bahwa akhir tahun tidak pernah netral. Ia bisa menjadi perayaan bagi sebagian, dan ujian bagi sebagian yang lain. Ketika jarak antara syukur dan duka terasa begitu dekat, barangkali yang paling masuk akal bukan menambah daftar keinginan, melainkan membuka ruang kepedulian, agar tahun tidak hanya selesai, tapi juga bermakna.

Menutup Tahun dengan Cara yang Lebih Manusiawi

Menutup tahun tidak selalu harus dengan daftar pencapaian. Kadang, ia justru menjadi lebih bermakna ketika kita mengingat siapa saja yang tertinggal di belakang, dan memilih untuk tidak melangkah sendirian. Di tengah bencana yang melanda Sumatera, kepedulian menjadi bahasa paling jujur untuk menutup satu bab waktu.

Zakat akhir tahun memberi kita kesempatan untuk mengubah rasa syukur menjadi tindakan. Bukan dalam bentuk yang muluk, tetapi dalam bantuan yang nyata, yang membantu orang lain bertahan, pulih, dan kembali menata hidup dengan martabat.

Mungkin kita tidak bisa menghentikan hujan atau mencegah bencana datang. Tapi kita selalu punya pilihan untuk hadir. Dan ketika tahun berganti, pilihan untuk #SalingMembantu itulah yang membuat penutup tahun terasa lebih manusiawi.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like